Kamis, 19 Maret 2009

Menanti Humanisme Penguasa dan Pengusaha

KRISIS ekonomi global dewasa ini merupakan momok menakutkan yang mengancam stabilitas ekonomi negara-negara di dunia. Bukan hanya negara berkembang, negara maju sekalipun dibuat sibuk memikiran strategi jitu untuk menangkalnya. Historisnya, bermula dari rontoknya sektor keuangan, sektor riil perlahan tetapi pasti mulai diuji ketahanannya.

Berbicara mengenai sektor riil, hal menarik yang perlu dikaji adalah menyangkut kesejahteraan pekerja. Potret pekerja negeri ini ibarat lilin yang menerangi di kegelapan malam. Begitu jumawa menebar jasa untuk orang lain tetapi eksistensinya tergadaikan hanya dengan selembar surat keputusan.

Begitu mudahnya pekerja dirumahkan dengan alasan perampingan. Adanya perumahan ini, pekerja memang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka seolah ditakdirkan hanya untuk menerima keadaan yang terjadi. Apakah memang begitu?

Krisis ekonomi 1998 adalah bukti nyata bagaimana keadaan menggerus hak pekerja. Karena menurunnya omzet penjualan dan tingginya biaya produksi, mau tidak mau perusahaan harus merumahkan ribuan pekerjanya. Keadaan seperti ini akan lebih parah jika tidak ada kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pekerja. Dengan adanya krisis global saat ini dihawatirkan akan menimbulkan perumahan pekerja besar-besaran seperti yang terjadi pada 1998.

Di sela-sela pelaksanaan KTT APEC di Lima, Peru, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melontarkan gagasan untuk menyelesaikan masalah ekonomi secara mandiri. Ini masuk akal karena hampir semua negara mengalami krisis yang sama dengan Indonesia. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana negara ini menerapkan mekanismenya di lapangan? Di sinilah humanisme penguasa dan pengusaha sebenarnya diuji.

Ekonomi sejatinya berjalan bukan hanya berasaskan profit oriented tetapi harus labih mengusung humanisme sosial. Para penguasa selayaknya mengeluarkan regulasi yang sangat berpihak kepada pekerja yang notabene rakyat jelata. Pengusaha, akan lebih bijak tentunya jika mereka sudi mengubur hitung-hitungan matematis untung rugi demi kesejahteraan pekerja, melegowokan untuk tidak merumahkan pekerjanya jika situasi sulit menghadang. Toh, keadaan sulit itu sudah pasti akan berlalu. Masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan lilin yang banyak berjasa untuk orang lain. Jika penguasa dan pengusaha bahu membahu, berkorban untuk sesama, gejolak ekonomi akan berlalu tanpa harus merumahkan pekerja.

Pertanyaannya sekarang, sanggupkah penguasa dan pengusaha negeri ini berkorban untuk orang lain? (*)

TENTANG PENULIS
Muhammad Gufron Hidayat. Lahir di Ciamis 10 November 1988. Tinggal di Jakarta.

[+/-] Selengkapnya...

Infak dan Kesejahteraan Sosial

“Perumpamaan orang yang menginfakan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dikehendakinya, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 261).

Infak adalah amalan sosial yang berdampak multidimensi, baik dimensi ukhrowi ataupun duniawi. Kepada orang yang berinfak Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda. Allah memberi perumpamaan dengan sebutir biji yang berubah menjadi tujuh ratus butir.
Aspek keduniawian infak sangat terasa dari dampak yang ditimbulkannya. Infak merupakan sarana untuk mewujudkan kesejahtraan sosial. Bisa diibaratkan jika seseorang menginfakan hartanya dalam bentuk uang, bantuan yang diberikan kepada mustahik akan meningkatkan daya beli. Peningkatan daya beli ini akan berimbas pada peningkatan produksi produsen, akibatnya ada penambahan kapasitas produksi dan hal ini menyebabkan produsen akan menyerap tenaga kerja lebih banyak.
Di sisi lain peningkatan produksi akan meningkatkan pajak bagi negara. Bila penerimaannya bertambah, negara akan mampu menyediakan sarana dan prasarana yang lebih untuk pembangunan serta mampu menyediakan fasilitas publik yang murah atau bahkan gratis.
Bila menyimak sejarah kejayaan Islam, infak yang berupa zakat atau shadaqah terbukti mampu mengurangi kemiskinan sampai titik terendah. Contohnya yang terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga tidak ada seorang pun yang berhak menerima zakat. Artinya masyarakat di bawah kekuasaan Islam semuanya tersejahterakan.
infak ini berbanding terbalik dengan konsep riba yang ada dewasa ini. infak adalah penyambung hubungan yang renggang antara orang kaya dan orang miskin. Sedangkan riba merupakan salah satu instrumen ekonomi yang disinyalir menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Selain itu riba juga menyebabkan terhambatnya sinergi sektor rill dan keuangan yang mengakibatkan ketimpangan struktur ekonomi.
Firman Allah SWT ”Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. al-Baqarah [2]: 276).
Subhanallah, begitu dahsyatnya dampak infak yang akan timbul. Jika setiap individu di melaksanakannya, maka kemiskinan di negara ini dengan sendirinya akan terhapuskan. Wallahu a’lam.

. Tentang Penulis:
MUHAMMAD GUFRON HIDAYAT, Penggiat Kajian Keagamaan. Tinggal di Jakarta.

[+/-] Selengkapnya...

UNTUK-MU TUHAN!

“Brak!” pintu mesjid didobrak, riuh rendah suara anak-anak yang sedang mengaji seketika senyap.
“Kalian semua dengerin! jangan ada yang ribut!” teriak Parjo sambil mengacung-ngacungkan golok.
“Mana si Mansur guru ngaji kalian?” Parjo seperti kesetanan, semuanya diam tak ada yang menjawab.
“Mana si Mansur? jawab!”
“Anu Bang, Bapak lagi sakit nggak bisa ngajar,” akhirnya Fatimah, putri Pak Mansur buka suara.
“Nggak bertanggung jawab!” umpatnya.
“Bilangin sama Bapakmu!” goloknya masih diacung-acungkan.
“Sejak hari ini, pengajian dibubarkan! Jika kalian masih sayang pada nyawa, jangan sekali-kali lagi kalian ngaji ditempat ini!”
“Paham kalian!” anak-anak ketakutan sambil berpelukan, suasana hening tak ada yang berani bersuara.
Seperti biasanya, setiap sore di mesjid Nurul Yaqin selalu diadakan pengajian anak-anak, pengajian ini satu-satunya di Komplek Graha Indah yang luasnya hampir 10 hektar.
Warga di perumahan kurang memperhatikan masalah agama, mereka juga selalu bergaya orang gedean, bak kaum borju yang memiliki banyak harta, padahal kebanyakan dari mereka orang pas-pasan, hanya beberapa orang yang benar-benar high class.
Beruntung, satu tahun yang lalu Pak Mansur pindah ke komplek ini, ia seorang ustadz yang telah memiliki banyak murid. Dengan adanya Pak Mansur, maka perlahan-lahan warga menjadi agamis, tak se-hedonis dulu.
Ketika kejadian itu, Pak Mansur tidak mengajar karena beliau sakit parah, ia digantikan oleh putrinya Fatimah yang masih duduk di kelas tiga SMA.
“Bilang sama Bapakmu, kalau nggak mau mesjid ini dibakar, bubarkan pengajian ini!” ancam Parjo.
“Brak!” pintu dibanting kembali olehnya.
Fatimah tak berkomentar apa-apa, ia hanya menangis sambil memeluk murid-muridnya. Anak-anak juga tak ada yang berani bersuara karena takut.
Sementara itu, senyum sinis tersungging dari bibir Parjo, sebuah senyum kemenangan, ia merasa kini aksinya berhasil. ia yakin, besok tak ada lagi anak-anak yang berani mengaji.
Parjo adalah mantan preman komplek yang terkenal kekejamannya. Ia pernah dipenjara gara-gara membunuh temannya ketika pesta ganja. Sering sekali ia membuat ulah di komplek itu, pemukulan, perampokan, pemerkosaan, bahkan gara-gara itu pula ia keluar masuk penjara. Warga merasa bosan berurusan dengannya.
Parjo termasuk salah seorang yang sangat menentang pembukaan pengajian di mesjid Nurul Yaqin, selain beberapa orang lainnya yang menentang dengan alasan yang bermacam-macam.
Setelahnya ia keluar masuk penjara, seiring usianya yang telah menginjak kepala empat, ia mulai merubah gaya hidupnya. Ia tidak lagi mencuri ketika butuh uang, ia mulai bekerja. Parjo bekerja sebagai penyedia jasa hiburan bagi anak-anak. Mainannya terdiri dari empat kuda-kudaan kecil yang ia gerakan dengan bantuan pedal. Pedal itu ia sambungkan ke ban gerobak sehingga kuda-kudaan itu bergerak maju mundur ketika pedalnya digerakan.
Waktu potensial Parjo mendapatkan uang adalah sore hari, ketika anak-anak sedang bermain sambil menikmati indahnya matahari sore. Namun, sejak adanya pengajian di mesjid Nurul Yaqin, omsetnya turun drastis. Anak-anak yang sebelumnya saling berebut naik kuda-kudaan, kini sepi, hiburannya tidak laku ditinggalkan anak-anak. Sementara ia membutuhkan biaya untuk hidupnya, untuk membayar cicilan rumah sederhananya jika tak ingin dibebankan bunga tinggi oleh debitur.
Parjo pulang dengan penuh kemenangan, mukanya berseri-seri seperti menang judi togel yang telah lama ditunggunya
“Kenapa lu Jo senyum-senyum sendiri seperti orang gila?” Tanya Badrun teman kerjanya.
“Run, dengerin! gue barusan ngelabrak pengajian di mejid, gue harap anak-anak ingusan itu berhenti mengaji, sialan gara-gara pengajian itu omset gue berkurang,” ujar Parjo.
“Gila lu Jo, nekad banget lu sampai bertindak kayak gitu.”
“Run, hidup ini harus nekad, kalau nggak nekad mana bisa kita kaya, banyak duit, hidup senang, gue malu Run sama tetangga, kayanya gue orang paling miskin di komplek ini.”
Badrun hanya geleng-geleng kepala tidak mengerti apa yang ada di pikiran temannya.
“Jo, gue cuma ngingetin, segala sesuatu itu pasti ada balasannya.”
“Lu sok jadi ustadz Run, mending lu khutbah saja di mesjid sialan itu biar kulabrak sekalian,” Parjo naik pitam.
Sebenarnya banyak cara yang telah dilakukan Parjo agar pengajian itu dibubarkan. Pernah ia datang baik-baik ke rumah Pak RT mengadukan masalah masjid yang selalu kotor, anak-anak selalu ribut, ia meminta Pak RT membubarkan pengajian itu, tapi pengaduannya tak digubris. Ia juga pernah meneror keluarga Pak Mansur agar menghentikan pengajian. Bahkan ia pernah menyuruh seorang algojo untuk memukuli Pak Mansur. Cara-cara itu telah ia lakukan tapi tak satu pun yang berbuah hasil.
Akhirnya dengan modal nekad, ia datang langsung ke mesjid sambil mengancam anak-anak yang mengaji. Ia yakin, jika anak-anak yang diancam, mereka akan trauma dan kapok mengaji di mesjid itu.
***

Parjo tidur ketika jam di rumahnya menunjukan angka 8.19 malam. Ia kelelahan. Sebelum tidur ia menyalakan obat nyamuk bakar. Lalu ia menyimpannya di dekat lemari baju. Mungkin karena rasa lelah yang menggelayuti, Parjo tidur sangat nyenyak. Ia tidak menyadari jika ada sebuah baju jatuh menutupi obat nyamuknya.
Berawal dari api yang kecil, seketika api itu menjelma bak monster besar yang siap melahap benda apa saja yang ada di hadapannya. Parjo terlambat menyadari kebakaran itu, ia tertimpa puing-puing lemari baju yang telah habis terbakar.
“Tolong! Tolong! Tolong!” ia meringis meminta bantuan, kesakitan tertindih puing-puing lemari yang hancur.
Tetangganya tak ada yang mau menolong. Beruntung saat itu ustadz Mansur datang. Mengetahui kebakaran itu, ia menghambur ke dalam rumah karena mendengar teriakan.
“Parjo, kamu tidak apa-apa?” Tanya ustadz Mansur santun.
Parjo tidak menyadari bahwa ustadz Mansur menolongnya, ia telah kehilangan kesadaran.
“Tolong! Tolong! Tolong!” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
Segera saja ustadz Mansur membawanya ke rumah sakit karena luka bakar dan patah tulang yang diderita Parjo.
Beberapa hari di rumah sakit, Parjo tidak sadarkan diri. Setelah Parjo sadar dan mengetahui apa yang terjadi, ia menangis sejadi-jadinya, ia menyesal, kini ia sadar bahwa ucapannya tempo hari telah menjadi bumerang baginya.
Kini, rumah serta gerobak dorongnya habis terbakar, ia tidak memiliki harta lagi, semuanya habis dilalap si jago merah. Ia tak menyangka semuanya bakal terjadi seperti ini. Ia teringat kembali bagaimana kemarin ia mengancam akan membakar mesjid, ternyata rumahnya yang terbakar.
Perasaannya bertambah sedih, karena sejak masuk rumah sakit tidak ada yang menjenguk seorang pun. Teman-temannya yang selalu dibanggakan, tak ada seorangpun yang terlihat batang hidungnya. Sementara keluarganya, ia tidak tahu mereka ada dimana. Ia membayangkan bagaimana ia harus membayar biaya rumah sakit yang pasti mahal, ia tidak memiliki harta sepeser pun.
“Assalamu’alaikum,” suara seseorang membuyarkan lamunannya.
“Wa…’alaikum…salam…” suara Parjo terbata-bata menjawab salam.
Parjo kaget bukan main ketika mengetahui Ustadz Mansur dan keluarganya menjenguk, terlihat juga Fatimah diantara mereka.
Parjo kalap tidak tahu apa yang akan diucapkannya.
“Ustadz!”
“Saya mohon maaf ustadz!”
“Saya khilaf, saya benar-benar khilaf, saya khilaf,” ujar Parjo, tak kuasa menahan air matanya yang menganak sungai.
“Sudah nggak usah dipikirkan, saya sudah memaafkannya, yang penting sekarang kamu sembuh dulu, jangan banyak berpikir macam-macam,” tutur ustadz Mansur bersahaja.
Parjo malu bukan main, dia yang dari dulu membenci ustadz Mansur dan keluarganya, pernah menerornya bahkan sampai memukulinya, ternyata semuanya itu tak membekaskan rasa dendam sedikit pun di hati ustadz Mansur. Berbeda dengan teman-teman yang selalu dibanggakannya, mereka hanya ada ketika Parjo memiliki uang. Ketika ia menderita mereka lari meninggalkannya. Kini ia baru sadar, bahwa hidup bukan hanya mencari kesenangan dunia, bukan hanya mencari harta, tapi ada tugas mulia yang harus dilaksanakan.
Akhirnya, dengan bantuan ustadz Mansur, Parjo bisa keluar dari rumah sakit. Berkat ustadz Mansur juga, Parjo benar-benar berubah. Ia tinggal di sebuah mesjid di desa tetangga. Ia malu jika seandainya harus tinggal di komplek yang lama. Dengan bantuan ustadz Mansur ia bisa tinggal di mesjid sebagai ta’mir, mengabdikan hidupnya untuk berjuang di jalan Allah, li I’lai kalimatillah menyebarkan agama Islam yang dulu ditentangnya.
Parjo bertekad mengabdikan hidup untuk agama, untuk Allah SWT yang akan dibelanya sampai ia meningal kelak.
***


Tentang Penulis:
banyubengal, nama pena dari Muhammad Gufron Hidayat. Mahasiswa semester II prodi Mu’amalat konsentrasi Perbankan Syari’ah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

[+/-] Selengkapnya...

BINTANG YANG MENARI

Kehidupan jalanan yang katanya penuh kejahatan lebih menyenangkan bagi Bintang daripada hidup di bawah kejahatan nyata seseorang yang seharusnya memberi kasih sayang.

Plak…!
Tangan besarnya mendarat di pipi, menimbulkan suara yang mengiris hati. Bintang merintih menahan perih yang tidak terkira. Beribu-ribu kali pukulan itu telah mendarat di tubuhnya. Dari kaki hingga kepala semuanya telah terjamah oleh kekejaman orang yang seharusnya memberi kasih sayang. Tindakan yang telah menjadi adat, mengakar, hingga sulit untuk dihilangkan.
“Ayah, minta uang!” Sambil memegang pipi yang sakit, Bintang menangis.
“Anak kurang ajar!”
“Sana minta duit sama Ibumu!” hardik ayahnya, kasar.
Sebenarnya Bintang takut membangunkan ayahnya yang sedang tidur, tapi karena sudah beberapa hari ia tidak diberi uang jajan, akhirnya ia pun memberanikan diri untuk membangunkannya. Ketakutan Bintang terbukti, bukannya uang jajan yang didapat, malah makian yang diterimanya. Dengan terisak-isak, akhirya ia keluar dari kamar ayahnya.
Ayahnya baru tiba ketika adzan subuh berkumandang. Langkahnya gontai, matanya merah menyala, menabrak pintu, menabrak kursi dan meracau seperti orang gila. Kadang, ketika Bintang bangun lebih pagi, ia berfikir, apa yang dilakukan ayahnya semalaman. Namun ketika hal itu ditanyakan kepada ibuya, ibunya tidak pernah menjawab.
Ayahnya jarang sekali memberi uang pada Bintang. Tidak pernah menghibur ketika Bintang sedih. Sikapnya acuh. Namun jika ada sesuatu yang tidak dikehendakinya, maka amarahlah yang berkata. Jika sedang menjadi, kekejamannya tidak terkendali. Memukul, menendang, dan kata-kata yang tidak pantas diucapkan keluar dari mulutnya.
Ibunya terjajah sang diktator keluarga. Terpenjara pada sikap lemah lembut yang terus dijaga. Sedangkan ayahnya meraja pada tindakan sewenang-wenang. Ibunya selalu mengalah ketika ada persoalan.
Ayah Bintang terkenal sebagai pengusaha sukses di daerahnya, Kerta Jasa. Tidak ada yang melebihi kepandaiannya dalam bisnis. Barang bekas pun bisa dijadikannya lembaran uang. Sampah bisa ia jadikan berkah. Sikapnya tenang ketika bekerja. Tidak banyak bicara. Targetnya jelas terpampang. Kepandaiannya bekerja menjadikan ia keluarga terkaya di daerah Kerta Jasa.
***

Akhirnya Bintang berangkat sekolah tanpa uang jajan. Ia tertunduk lesu membayangkan hari-hari yang telah berlalu. Membayangkan ledekan teman-teman yang akan diterimanya. Semuanya itu membuat Bintang malas berangkat sekolah.
“Hey! anak orang kaya, nggak dikasih uang jajan lagi ya, kasihan banget, makanya jangan jadi anak nakal!” Ujar Gono meledek Bintang. Siswa yang lain tertawa melihat Bintang kikuk tidak karuan.
“Orang kaya payah!” sambung temannya yang lain.
Entah berapa kali lagi Bintang akan mendengar kata-kata seperti itu, rasanya ia ingin lari menuju dunia yang sepi.
***

Sudah satu bulan Bintang sekolah, tetapi tidak satu orang pun mau menjadi temannya. Entah apa yang salah pada Bintang. Padahal, ia biasa-biasa saja. Tidak pernah berbuat ulah. Tidak pernah menyakiti teman-temannya.
Mungkin karena pakaianku agak mewah, pikir Bintang.
Hari-hari selanjutnya Bintang menggunakan pakaian sederhana, tapi tetap meraka tidak ada yang mau bergaul dengannya. Bintang mencoba mendekati mereka dengan cara memberi makanan, tapi tidak ada yang menerimanya. Ia sedih, semua orang menjauhinya. Jika waktu istirahat tiba, Bintang tidak pernah ke luar dari kelas. Ia melamun seorang diri. Ketika pelajaran berlangsung pun ia duduk sendirian di barisan paling depan.
Bintang mulai bosan hidup sendiri. Ia lebih sering melamun di kelas ketika teman-temannya asyik bercanda. Ia menjadi anak pemurung yang tumbuh dalam kubangan masalah. Bintang melihat semua teman-temannya membenci, menyindir, menganggapnya aneh. Tidak ada seorang pun yang peduli ketika ia tidak punya uang jajan. Semuanya seolah memusuhi.
Malang benar nasibnya. Di usia yang kecil, ia harus menanggung beban berat psikologis yang tidak pernah dimengerti apa penyebabnya. Ia menjadi pemurung, pemarah bahkan pada ibunya sekalipun. Kepalanya sering terasa sakit seolah ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Badan pegal-pegal padahal ia tidak pernah bekerja apapun. Ayahnya yang melihat Bintang sering bertingkah aneh malah menyindir, sangat menyakitkan.
“Bintang, kenapa kamu sering melamun? Ada masalah?” tanya ibunya suatu hari.
“Nggak ada apa-apa kok Bu.”
“Kamu jangan bohong sama Ibu, Ibu tahu kamu sedang ada masalah, ayo cerita sama Ibu!” pintanya.
“Bu, kenapa semua orang seperti memusuhi kita?” akhirnya ia ungkapkan masalahnya.
“Kata siapa? Tak ada yang memusuhi kita.”
“Tadi Ibu yang bilang jangan bohong, kenapa sekarang Ibu bohong,” ujar Bintang karena tidak puas dengan penjelasan ibunya.
“Awalnya saya tidak menyadari sama sekali karena tidak pernah diizinkan ke luar rumah. Tapi setelah saya masuk sekolah, saya menyadari bahwa semua orang memusuhi. Kenapa Bu?” tanya Bintang, polos.
”Percayalah anakku! tidak ada yang memusuhi kita. Itu hanya perasaanmu saja. Sudah sekarang kamu ganti baju, kita jalan-jalan di taman!” ajaknya.
“Bu, saya ingin main ke rumah teman-teman, boleh nggak?” tanya Bintang.
“Boleh, tapi izin dulu sama Ayah!”
“Ah, kalau izin sama Ayah pasti nggak diizinin, kenapa si Bu?” tanyanya.
“Diizinin, nanti Ibu yang bilang. Sekarang kamu ganti baju saja, kita jalan-jalan!”
Akhirnya Bintang pergi. Dalam hatinya masih mengganjal sebuah pertanyaan, mengapa ia tidak boleh bermain bersama teman-temannya di luar rumah.
Rumah mewah, taman luas, kolam renang, ruang olah raga, mobil, motor, semuanya telah tercukupi di rumah ini. Tapi tetap Bintang merasa tidak bahagia. Hatinya selalu sedih. Ada sesuatu yang kurang dari kemewahan rumahnya, dari indah tamannya. Ia seperti terpenjara di sangkar emas yang megah.
Ketika kelas enam SD ibunya meninggal. Setelah ibunya meninggal, Ayah Bintang malah semakin menjadi-jadi. Setiap malam tidak pernah ada di rumah. Terkadang ia baru pulang ketika Bintang hendak berangkat sekolah. Ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dengan diantar oleh seorang perempuan yang berpenampilan sangat seksi. Bisnis yang dulu sangat dibangga-banggakannya dan begitu gigih diperjuangkan perlahan tapi pasti mulai mengalami masa kritis. Kehidupannya semakin menghawatirkan.
Bintang tidak pernah disapanya lagi. Ia semakin takut ketika melihat Ayahnya. Salah sedikit saja, ia pasti dimarahin. Ia benar-benar merasa hidup sendiri. Sekolah mulai terganggu. Jangankan uang jajan, untuk makan pun Bintang siapkan sendiri. Tanpa lauk, ia makan apa adanya.
Karena tidak betah tinggal di rumah, Bintang kabur. Sekolah ditinggalkan. Ia terkantung-kantung. Makan dari sisa orang makan. Tidur di emper-emper pertokoan. Tanpa kasur seperti di rumah mewahnya. Juga Tanpa bantal guling.
Terminal yang bau pesing, jongko-jongko yang kumuh menjadi tempat hidup baru Bintang. Ia tidak tahu harus ke mana ia pergi, bagaimana ia makan, minum, sedangkan ia tidak punya uang sepeser pun. Lebih-lebih ia tidak punya teman untuk diminta pertolongan. Berhari-hari Bintang tidak makan. Badannya mulai terasa lemas. Akhirnya dengan terpaksa, bermodalkan kaleng bekas yang diisi pasir ia mengamen.
Bayangan tidak memiliki teman seperti di sekolah dulu menghantui pikiran Bintang. Ia semakin takut karena hingga saat itu Bintang tidak memiliki teman satu orang pun. Sedangkan untuk berkenalan dengan teman sebayanya ia merasa malu. Bintang merasa tidak pantas bergaul dengan mereka. Ia minder.
Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, Bintang berkenalan dengan Kobe. Dari dia pula Bintang kenal pada seorang preman terminal. Preman ini memberi makan pada beberapa anak jalanan, ia seperti ayah angkat bagi orang seperti Bintang, anak gelandangan. Sebagai imbalannya mereka harus mengobral suara cemprengnya pada penumpang-penumpang angkot yang lalu lalang. Selama beberapa hari Bintang tinggal di tempat asuhannya.
“Jek!” panggilan baru Bintang, Kojek, entah apa artinya.
“Malam ini ada pesta kecil, Bos kita baru dapat job gede-gedean,” ujar Kobe.
“Oke kawan, aku ikut!” getas Bintang
“Sip! itu baru Kojek.”
***

Bintang kaget bukan main ketika ia hadir di acara itu. Botol-botol berjejer di meja, cemilan, kacang, serta ayam bakar yang menggiurkan selara semuanya tersedia.
Ruang sempit itu sesak oleh puluhan orang. Bukan hanya gelandangan yang sering Bintang lihat, tapi juga gadis-gadis berpenampilan seksi. Mereka menari-nari, memperlihatkan sesuatu yang seharusnya mereka jaga.
Bintang merasa risih karena tidak biasa dengan acara seperti itu. Kobe yang mengetahui ketidaknyamanan Bintang mencoba menenangkannya. Ia mengenalkan Bintang pada beberapa orang temannya. Mereka tampak akrab sekali di mata Bintang. Ia merasa dihargai keberadaannya. Ia tidak dilecehkan lagi seperti dulu. Lalu, Ada rasa senang yang tiba-tiba memenuhi dada Bintang.
Banyak hal baru yang ditemui Bintang di lingkungannya sekarang. Hampir setiap malam Bintang bersama teman-temannya berkumpul dan membeli beberapa botol minuman. Selain itu, ia sudah sangat akrab sekali dengan rokok. Entah kenapa ia begitu saja menurut ketika teman-temannya menawarkan rokok padanya. Dalam hati kecilnya, Bintang selalu bertanya, apakah benar yang dilakukannya.
Di lingkungan barunya, Bintang bisa menari, bernyanyi, mengisi hari sebagai anak normal di tengah komunitas manusia, bukan diantara benteng kekayaan tapi miskin kasih sayang. Ia bisa menari bersama bintang yang berkedip di langit malam.
Semoga Bintang menari laksana kejora yang mempesona, bukan bintang hitam yang membawa pertanda kelam…


Tentang Penulis:
banyubengal, nama pena dari Muhammad Gufron Hidayat. Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. E-mail cibaymarkaz@yahoo.com

[+/-] Selengkapnya...