Kamis, 19 Maret 2009

UNTUK-MU TUHAN!

“Brak!” pintu mesjid didobrak, riuh rendah suara anak-anak yang sedang mengaji seketika senyap.
“Kalian semua dengerin! jangan ada yang ribut!” teriak Parjo sambil mengacung-ngacungkan golok.
“Mana si Mansur guru ngaji kalian?” Parjo seperti kesetanan, semuanya diam tak ada yang menjawab.
“Mana si Mansur? jawab!”
“Anu Bang, Bapak lagi sakit nggak bisa ngajar,” akhirnya Fatimah, putri Pak Mansur buka suara.
“Nggak bertanggung jawab!” umpatnya.
“Bilangin sama Bapakmu!” goloknya masih diacung-acungkan.
“Sejak hari ini, pengajian dibubarkan! Jika kalian masih sayang pada nyawa, jangan sekali-kali lagi kalian ngaji ditempat ini!”
“Paham kalian!” anak-anak ketakutan sambil berpelukan, suasana hening tak ada yang berani bersuara.
Seperti biasanya, setiap sore di mesjid Nurul Yaqin selalu diadakan pengajian anak-anak, pengajian ini satu-satunya di Komplek Graha Indah yang luasnya hampir 10 hektar.
Warga di perumahan kurang memperhatikan masalah agama, mereka juga selalu bergaya orang gedean, bak kaum borju yang memiliki banyak harta, padahal kebanyakan dari mereka orang pas-pasan, hanya beberapa orang yang benar-benar high class.
Beruntung, satu tahun yang lalu Pak Mansur pindah ke komplek ini, ia seorang ustadz yang telah memiliki banyak murid. Dengan adanya Pak Mansur, maka perlahan-lahan warga menjadi agamis, tak se-hedonis dulu.
Ketika kejadian itu, Pak Mansur tidak mengajar karena beliau sakit parah, ia digantikan oleh putrinya Fatimah yang masih duduk di kelas tiga SMA.
“Bilang sama Bapakmu, kalau nggak mau mesjid ini dibakar, bubarkan pengajian ini!” ancam Parjo.
“Brak!” pintu dibanting kembali olehnya.
Fatimah tak berkomentar apa-apa, ia hanya menangis sambil memeluk murid-muridnya. Anak-anak juga tak ada yang berani bersuara karena takut.
Sementara itu, senyum sinis tersungging dari bibir Parjo, sebuah senyum kemenangan, ia merasa kini aksinya berhasil. ia yakin, besok tak ada lagi anak-anak yang berani mengaji.
Parjo adalah mantan preman komplek yang terkenal kekejamannya. Ia pernah dipenjara gara-gara membunuh temannya ketika pesta ganja. Sering sekali ia membuat ulah di komplek itu, pemukulan, perampokan, pemerkosaan, bahkan gara-gara itu pula ia keluar masuk penjara. Warga merasa bosan berurusan dengannya.
Parjo termasuk salah seorang yang sangat menentang pembukaan pengajian di mesjid Nurul Yaqin, selain beberapa orang lainnya yang menentang dengan alasan yang bermacam-macam.
Setelahnya ia keluar masuk penjara, seiring usianya yang telah menginjak kepala empat, ia mulai merubah gaya hidupnya. Ia tidak lagi mencuri ketika butuh uang, ia mulai bekerja. Parjo bekerja sebagai penyedia jasa hiburan bagi anak-anak. Mainannya terdiri dari empat kuda-kudaan kecil yang ia gerakan dengan bantuan pedal. Pedal itu ia sambungkan ke ban gerobak sehingga kuda-kudaan itu bergerak maju mundur ketika pedalnya digerakan.
Waktu potensial Parjo mendapatkan uang adalah sore hari, ketika anak-anak sedang bermain sambil menikmati indahnya matahari sore. Namun, sejak adanya pengajian di mesjid Nurul Yaqin, omsetnya turun drastis. Anak-anak yang sebelumnya saling berebut naik kuda-kudaan, kini sepi, hiburannya tidak laku ditinggalkan anak-anak. Sementara ia membutuhkan biaya untuk hidupnya, untuk membayar cicilan rumah sederhananya jika tak ingin dibebankan bunga tinggi oleh debitur.
Parjo pulang dengan penuh kemenangan, mukanya berseri-seri seperti menang judi togel yang telah lama ditunggunya
“Kenapa lu Jo senyum-senyum sendiri seperti orang gila?” Tanya Badrun teman kerjanya.
“Run, dengerin! gue barusan ngelabrak pengajian di mejid, gue harap anak-anak ingusan itu berhenti mengaji, sialan gara-gara pengajian itu omset gue berkurang,” ujar Parjo.
“Gila lu Jo, nekad banget lu sampai bertindak kayak gitu.”
“Run, hidup ini harus nekad, kalau nggak nekad mana bisa kita kaya, banyak duit, hidup senang, gue malu Run sama tetangga, kayanya gue orang paling miskin di komplek ini.”
Badrun hanya geleng-geleng kepala tidak mengerti apa yang ada di pikiran temannya.
“Jo, gue cuma ngingetin, segala sesuatu itu pasti ada balasannya.”
“Lu sok jadi ustadz Run, mending lu khutbah saja di mesjid sialan itu biar kulabrak sekalian,” Parjo naik pitam.
Sebenarnya banyak cara yang telah dilakukan Parjo agar pengajian itu dibubarkan. Pernah ia datang baik-baik ke rumah Pak RT mengadukan masalah masjid yang selalu kotor, anak-anak selalu ribut, ia meminta Pak RT membubarkan pengajian itu, tapi pengaduannya tak digubris. Ia juga pernah meneror keluarga Pak Mansur agar menghentikan pengajian. Bahkan ia pernah menyuruh seorang algojo untuk memukuli Pak Mansur. Cara-cara itu telah ia lakukan tapi tak satu pun yang berbuah hasil.
Akhirnya dengan modal nekad, ia datang langsung ke mesjid sambil mengancam anak-anak yang mengaji. Ia yakin, jika anak-anak yang diancam, mereka akan trauma dan kapok mengaji di mesjid itu.
***

Parjo tidur ketika jam di rumahnya menunjukan angka 8.19 malam. Ia kelelahan. Sebelum tidur ia menyalakan obat nyamuk bakar. Lalu ia menyimpannya di dekat lemari baju. Mungkin karena rasa lelah yang menggelayuti, Parjo tidur sangat nyenyak. Ia tidak menyadari jika ada sebuah baju jatuh menutupi obat nyamuknya.
Berawal dari api yang kecil, seketika api itu menjelma bak monster besar yang siap melahap benda apa saja yang ada di hadapannya. Parjo terlambat menyadari kebakaran itu, ia tertimpa puing-puing lemari baju yang telah habis terbakar.
“Tolong! Tolong! Tolong!” ia meringis meminta bantuan, kesakitan tertindih puing-puing lemari yang hancur.
Tetangganya tak ada yang mau menolong. Beruntung saat itu ustadz Mansur datang. Mengetahui kebakaran itu, ia menghambur ke dalam rumah karena mendengar teriakan.
“Parjo, kamu tidak apa-apa?” Tanya ustadz Mansur santun.
Parjo tidak menyadari bahwa ustadz Mansur menolongnya, ia telah kehilangan kesadaran.
“Tolong! Tolong! Tolong!” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
Segera saja ustadz Mansur membawanya ke rumah sakit karena luka bakar dan patah tulang yang diderita Parjo.
Beberapa hari di rumah sakit, Parjo tidak sadarkan diri. Setelah Parjo sadar dan mengetahui apa yang terjadi, ia menangis sejadi-jadinya, ia menyesal, kini ia sadar bahwa ucapannya tempo hari telah menjadi bumerang baginya.
Kini, rumah serta gerobak dorongnya habis terbakar, ia tidak memiliki harta lagi, semuanya habis dilalap si jago merah. Ia tak menyangka semuanya bakal terjadi seperti ini. Ia teringat kembali bagaimana kemarin ia mengancam akan membakar mesjid, ternyata rumahnya yang terbakar.
Perasaannya bertambah sedih, karena sejak masuk rumah sakit tidak ada yang menjenguk seorang pun. Teman-temannya yang selalu dibanggakan, tak ada seorangpun yang terlihat batang hidungnya. Sementara keluarganya, ia tidak tahu mereka ada dimana. Ia membayangkan bagaimana ia harus membayar biaya rumah sakit yang pasti mahal, ia tidak memiliki harta sepeser pun.
“Assalamu’alaikum,” suara seseorang membuyarkan lamunannya.
“Wa…’alaikum…salam…” suara Parjo terbata-bata menjawab salam.
Parjo kaget bukan main ketika mengetahui Ustadz Mansur dan keluarganya menjenguk, terlihat juga Fatimah diantara mereka.
Parjo kalap tidak tahu apa yang akan diucapkannya.
“Ustadz!”
“Saya mohon maaf ustadz!”
“Saya khilaf, saya benar-benar khilaf, saya khilaf,” ujar Parjo, tak kuasa menahan air matanya yang menganak sungai.
“Sudah nggak usah dipikirkan, saya sudah memaafkannya, yang penting sekarang kamu sembuh dulu, jangan banyak berpikir macam-macam,” tutur ustadz Mansur bersahaja.
Parjo malu bukan main, dia yang dari dulu membenci ustadz Mansur dan keluarganya, pernah menerornya bahkan sampai memukulinya, ternyata semuanya itu tak membekaskan rasa dendam sedikit pun di hati ustadz Mansur. Berbeda dengan teman-teman yang selalu dibanggakannya, mereka hanya ada ketika Parjo memiliki uang. Ketika ia menderita mereka lari meninggalkannya. Kini ia baru sadar, bahwa hidup bukan hanya mencari kesenangan dunia, bukan hanya mencari harta, tapi ada tugas mulia yang harus dilaksanakan.
Akhirnya, dengan bantuan ustadz Mansur, Parjo bisa keluar dari rumah sakit. Berkat ustadz Mansur juga, Parjo benar-benar berubah. Ia tinggal di sebuah mesjid di desa tetangga. Ia malu jika seandainya harus tinggal di komplek yang lama. Dengan bantuan ustadz Mansur ia bisa tinggal di mesjid sebagai ta’mir, mengabdikan hidupnya untuk berjuang di jalan Allah, li I’lai kalimatillah menyebarkan agama Islam yang dulu ditentangnya.
Parjo bertekad mengabdikan hidup untuk agama, untuk Allah SWT yang akan dibelanya sampai ia meningal kelak.
***


Tentang Penulis:
banyubengal, nama pena dari Muhammad Gufron Hidayat. Mahasiswa semester II prodi Mu’amalat konsentrasi Perbankan Syari’ah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar