KRISIS ekonomi global dewasa ini merupakan momok menakutkan yang mengancam stabilitas ekonomi negara-negara di dunia. Bukan hanya negara berkembang, negara maju sekalipun dibuat sibuk memikiran strategi jitu untuk menangkalnya. Historisnya, bermula dari rontoknya sektor keuangan, sektor riil perlahan tetapi pasti mulai diuji ketahanannya.
Berbicara mengenai sektor riil, hal menarik yang perlu dikaji adalah menyangkut kesejahteraan pekerja. Potret pekerja negeri ini ibarat lilin yang menerangi di kegelapan malam. Begitu jumawa menebar jasa untuk orang lain tetapi eksistensinya tergadaikan hanya dengan selembar surat keputusan.
Begitu mudahnya pekerja dirumahkan dengan alasan perampingan. Adanya perumahan ini, pekerja memang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka seolah ditakdirkan hanya untuk menerima keadaan yang terjadi. Apakah memang begitu?
Krisis ekonomi 1998 adalah bukti nyata bagaimana keadaan menggerus hak pekerja. Karena menurunnya omzet penjualan dan tingginya biaya produksi, mau tidak mau perusahaan harus merumahkan ribuan pekerjanya. Keadaan seperti ini akan lebih parah jika tidak ada kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pekerja. Dengan adanya krisis global saat ini dihawatirkan akan menimbulkan perumahan pekerja besar-besaran seperti yang terjadi pada 1998.
Di sela-sela pelaksanaan KTT APEC di Lima, Peru, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melontarkan gagasan untuk menyelesaikan masalah ekonomi secara mandiri. Ini masuk akal karena hampir semua negara mengalami krisis yang sama dengan Indonesia. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana negara ini menerapkan mekanismenya di lapangan? Di sinilah humanisme penguasa dan pengusaha sebenarnya diuji.
Ekonomi sejatinya berjalan bukan hanya berasaskan profit oriented tetapi harus labih mengusung humanisme sosial. Para penguasa selayaknya mengeluarkan regulasi yang sangat berpihak kepada pekerja yang notabene rakyat jelata. Pengusaha, akan lebih bijak tentunya jika mereka sudi mengubur hitung-hitungan matematis untung rugi demi kesejahteraan pekerja, melegowokan untuk tidak merumahkan pekerjanya jika situasi sulit menghadang. Toh, keadaan sulit itu sudah pasti akan berlalu. Masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan lilin yang banyak berjasa untuk orang lain. Jika penguasa dan pengusaha bahu membahu, berkorban untuk sesama, gejolak ekonomi akan berlalu tanpa harus merumahkan pekerja.
Pertanyaannya sekarang, sanggupkah penguasa dan pengusaha negeri ini berkorban untuk orang lain? (*)
TENTANG PENULIS
Muhammad Gufron Hidayat. Lahir di Ciamis 10 November 1988. Tinggal di Jakarta.
Kamis, 19 Maret 2009
Menanti Humanisme Penguasa dan Pengusaha
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar